Jumat, 19 April 2013

KUNJUNGAN PPMKAI KE MANISLOR






KUNJUNGAN PPMKAI KE MANISLOR

Manislor: (16/3) Sabtu malam, MKAI Manislor telah melaksanakan acara malam khuddam yang bertempat di mesjid Al-Hikmah. Namun kali ini acaranya sedikit berbeda dari yang biasanya. Malam khuddam tersebut dihadiri oleh Sadr MKAI beserta rombongan yang berjumlah 30 orang. Serta dihadiri oleh badan-badan pengurus Jemaat Ahmadiyah Manislor. Dan kurang lebih 70 orang khuddam Manislor yang hadir pada malam itu.
            Pukul 18.30 WIB acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Ahmad Fadhilah, dilanjut dengan doa pembukaan yang dipimpin oleh Mln. Aang Kunaefi. Kemudian dilanjut dengan pembacaan syair oleh Iwan Irawan dan pembacaan Janji Khuddam oleh Sadr MKAI. Membumikan Alwasiyat merupakan tema yang dipilih pada malam itu.
“Terkadang manusia merasa bangga ketika mewariskan harta kepada anak keturunannya, padahal itu salah. Merupakan bencana bagi anak keturunannya, sebab harta menimbulkan malapetaka. Tidak sedikit kakak membunuh adiknya, adik membunuh kakaknya gara-gara telah diperbudak oleh harta. Beda dengan keimanan, apabila yang diwariskannya keimanan pasti tidak akan terjadi seperti itu. Makanya kita menjadi umat yang terbaik apabila kita mengikuti perintah-Nya.” Ujar Mln. Aang Kunaefi.
            Sesungguhnya dalam Alwasiyat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aal bertujuan ingin memisahkan umat yang baik dari orang (umat) yang munafik. Seperti yang sudah ditawarkan oleh Imam Mahdi ‘alayhissalaam. Satu gerakan Alwasiyat terhadap manusia khususnya generasi muda (khuddam/lajnah) yaitu demi memajukan Jemaat Ahmadiyah dan demi menyongsong kemenangan Islam yang kedua kalinya. Proyek raksasa ini merupakan gerakan yang membutuhkan dana yang besar. Jika generasi muda Jemaat Ahmadiyah Indonesia bergabung dengan gerakan ini, sejatinya ia berpikir satu visi dengan pendiri Jemaat.
            “Bangsa-bangsa tidak dapat diperbaiki apabila generasi mudanya tidak diperbaiki.” Perkataan ini merupakan moto dari Imam Mahdi ‘alayhissalaam untuk Majelis Khuddamul Ahmadiyah. Jadi,  dengan tangan-tangan yang berkualitas  dari generasi muda Jemaat Ahmadiyah, yang akan memajukan dan menjadikan Jemaat Ahmadiyah ini suatu organisasi yang lebih besar lagi dan tetap kokoh di dalam agama Islam.
Dijelaskan pula mengenai aspek praktis dalam melaksanakan Alwasiyat. Ada beberapa catatan penting diperuntukan kepada seluruh pengurus diwajibkan berwasiyat baik ditingkat cabang, wilayah maupun tingkat majelis. Sebab, itu akan menjadikan warga jemaat untuk tidak beralasan lagi dalam berwasiyat. Kemudian untuk pelajar dan mahasiswa yang sudah paham dalam berwasiyat, juga diharapkan wajib berwasiyat karena tidak ada syarat ketentuan dalam pembayarannya. Akan tetapi, bagi yang sudah berpenghasilan ada syarat ketentuan dalam pembayaran: minimal Rp 500.000,-. Mengapa Rp 500.000,- (?) Karena apabila di hisa amad yaitu Rp 50.000,- dan itu sudah mencukupi dalam berwasiyat.
            Target pada periode tahun sekarang yaitu 300 orang khuddam yang diwajibkan berwasiyat. Pada periode tahun 2011-2012, targetnya 100 orang khuddam. Alhamdulillah sudah tercapai. Sedangkan target yang diminta oleh Hudzur a.t.b.a yaitu 50%. Jangan pernah ada rasa takut  dan rasa ragu didalam hati untuk berwasiyat.
“Sekian lama proyek raksasa ini berjalan, saya belum pernah mendengar bahwa ada warga Jemaat yang kelaparan tidak bisa makan, ada yang perekonomiannya menjadi kurang gara-gara berwasiyat. Jadi, seolah-olah warga Jemaat ini takut hartanya habis, itu salah, justru sebaliknya harta kita akan bertambah.” Ujar Mutamim Tarbiyat.
Berwasiyat itu ibaratkan seperti halnya kita bai’at. “Bai’at dulu baru nanti kita tinggal melaksanakan syarat-syaratnya, begitupun dalam berwasiyat.” Lanjut Mutamim Tarbiyat.
            Tujuan Alwasiyat ini hanya satu: untuk meningkatkan keimanan kita. Dari pengorbanan inilah amal kebaikan kita dapatkan dan tergantung dari pengorbanan yang kita keluarkan juga. Kesimpulannya, harta hanyalah titipan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala semata-mata untuk menunjang kehidupan kita selama di dunia. Dan harta itu akan memberikan kita kenikmatan serta malapetaka bagi kita tergantung kita menggunakannya.
            Jadi, belanjakanlah harta itu dijalan yang sudah ditentukan oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala demi menolong kita semua ketika di dunia maupun di akhirat nanti. Dan demi memajukan Jemaat Ahmadiyah serta menyongsong kemenangan Islam yang kedua kalinya. Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa Ta’ala lebih mencintai umat-Nya yang miskin harta tetapi kaya hati, dari pada kaya harta tetapi miskin hati.

LINTAS IMAN



Tabligh Di Gereja:
Isa Almasih Yang Dijanjikan Telah Datang

Cirebon: (13/3) Rabu malam. Kegiatan rutin PELITA setiap bulannya kembali dilaksanakan, bertempat di Gereja Bunda Maria Cirebon yang dilaksanakan ba’da Maghrib sampai selesai.
Seperti biasa kegiatan ini dihadiri berbagai agama dan organisasi agama yang ada di Indonesia khususnya di wilayah Cirebon. Dari Kristen Katolik 10 orang yang diketuai oleh Pastur Franky Paskalis P.Pr, Majelis Ta’lim HDH (Hidup Dibalik Hidup) 9 orang yang diketuai oleh Eka Dwi, Kristen Protestan 1 orang Handoko, Budha 3 orang yang diketuai Santo Darma, serta dari Jemaat Ahmadiyah Cirebon dan Kuningan 20 orang yang diketuai oleh Mln. Buldan Burhanudin
            Rintik-rintik hujan yang berbunyi  dengan udara yang malam yang dingin, tidak menyurutkan semangat rekan-rekan untuk hadir dalam acara ini.
            Acara dibuka oleh pengurus PELITA, dilanjut perkenalan dari masing-masing elemen karena bertempat di Gereja Bunda Maria. Sejarah Gereja Bunda Maria jadi tema malam itu.
            Selama kurang lebih 30 menit bercerita mengenai sejarah Gereja Bunda Maria yang dibawakan oleh Let. Kol Supriyadi sesepuh Gereja Bunda Maria.  Selanjutnya diisi dengan tanya jawab seputar Gereja Bunda Maria dan yang lainnya.
            Dalam Katolik ada hirarki kepemimpinan. Kepimimpinan tertinggi adalah Paus, Kardinal, Uskup, Imam (Pastor), hingga yang terendah Diakon.
Pada malam itu, Ahmadiyah mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan secara singkat “Apa Itu Ahmadiyah”.
Ahmadiyah tak kalah hebatnya dari Katolik. Sebagai Organisasi Islam yang telah mapan di kancah dunia, Ahmadiyah juga memiliki Hirarki kepemimpinan tingkat dunia. Seperti yang telah kita ketahui bahwa Khalifah merupakan tingkat kepemimpinan tertinggi. Mln. Buldan menjelaskan hirarki Ahmadiyah dengan menggunakan istilah yang biasa dipakai oleh orang Katolik. Misal, Khalifah itu merupakan “Paus” dalam Jemaat Ahmadiyah.
“Apa sih permasalahan yang sebenarnya kok Ahmadiyah dan HDH dikatakan sesat?” papar Yohanes, Aktivis Katolik.
            “Permasalahan utama atau bedanya Ahmadiyah dengan organisasi lain adalah bahwa Isa Al-Masih yang dijanjikan sudah datang.” Jawab Mln. Buldan
            “HDH dikatakan sesat karena kita meyakini bahwa semua bahasa itu sama jadi kami tak perlu memaknai bacaan Al-Quran karena artinya sama dengan bahasa lain.” Ujar Ketua HDH, Eka Dwi.
Ayo kita sama-sama sebagai Ahmadi menjaga kerukunan, ketertiban, keindahan antara umat beragama. Tunjukan bahwa kita seorang Ahmadi Muslim. Dan katakana: I proud to be a Muslim Ahmadi. Yoga

Senin, 11 Maret 2013

BULETIN KITA EDISI JANUARI Cab.Manisl






IGMA: SEMANGAT BERKHIDMAT UNTUK JEMAAT



IGMA: SEMANGAT BERKHIDMAT UNTUK JEMAAT


Manislor: Kamis (14/2) diadakan kegiatan rutin IGMA di Masjid An-Nur lantai 2. Dimulai sejak pukul 18.30 WIB, berlangsung dengan rapih dan tertib. Acara ini dihadiri oleh Muballigh Aang Kunaefi.
Tema yang disampaikan oleh Muballigh tentang “Pengkhidmatan”, dengan dimoderatori oleh Ahmad Basyar. Seperti biasa, para khudam dan LI duduk berkelompok untuk berdiskusi, dan diberi pertanyaan sesuai tema.
“Menurut kalian, pengkhidmatan itu lebih baik harta atau waktu?” pertanyaan yang diberikan moderator untuk salah satu kelompok.
“Menurut kami, kedua-duanya juga penting, tetapi menurut kami lebih penting pengkhidmatan waktu. Contohnya, jika sesibuk-sibuknya  kita, tetapi kita dapat hadir di dalam acara IGMA sekarang ini. Sedangkan harta, kita ini masih sebagai seorang pelajar, penghasilan pun hanya dari uang jajan.” Jawab kelompok yang diberikan pertanyaan di atas.
Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan telah dijawab oleh masing-masing kelompok. Kemudian, Muballigh memberikan penjelasan mengenai arti pengkhidmatan.
“Pengkhidmatan berasal dari kata khaddimah – yukhoddimu – khaddiman.  Pengkhidmatan dapat diartikan sebagai pengabdian atau melayani. Pengkhidmatan dibagi menjadi 2. Pertama, pengkhidmatan haqiqi (pengkhidmatan kepada Allah) yang akan mendapatkan kebaikan. Kedua, berkhidmat kepada setan, yang akan mendapatkan  keburukan karena ia selalu mencari kesenangan duniawi  (berkhidmat kepada dunia )” Jelas Muballigh.
”Apakah dengan hadir dalam acara seperti ini kita dapat dikatakan berkhidmat?” Tanya Reni Zahra, seorang LI.
“Ya, karena sesuai dengan jani-janji yang kita ikrar kan dalam beberapa syarat baiat dan juga dalam janji setiap badan, guna mengorbankan waktununtuk jema’at, dan acara-acara jema’at” jawab Muballigh.
Tak lama setelah Muballigh menjawab pertanyaan, terdengar pertanyaan berikutnya.
“Jika menghadiri tarbiyat seperti ini merupakan berkhidmat, apakah berkhidmat itu hak atau kewajiban?” Tanya salah seorang LI bernama Lika Vulki.
“Hak. Karena hak adalah sesuatu yang kita peroleh dari kewajiban, sedangkan kewajiban itu sesuatu yang harus dijalankan/ dilaksanakan”. Jawab Muballigh dengan singkat.
“Lebih baik sendiri tetapi dekat dengan Allah, daripada bergerombol tetapi jauh dari Allah”. Ujar Ahmad Basyar selaku moderator ketika menutup acara.
Maka dari itu, kita sebagai generasi penerus, harus tetap dan meningkatkan semangat kita dalam berkhidmat dalam Agama dan Jemaat. Semoga pengkhidmatan kita selama ini tulus dan mendapatkan Ridha dan kebaikan  dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Aamiin Allaahummaa Aamiin.